Tuesday, 9 April 2013

Dendrobium punbatuense J.J.Wood , 2008


Section : Calcarfera
Found in north and east Borneo in hill and lower montane forests at elevations around 400 to 1000 meters as a medium sized, hot to warm, pendent growing epiphyte.
Stem : 3 to 4 close set stems.
Leaves : Several, ovate-elliptic, minutely obliquely acute to acuminate, herbaceous leaves. Flower : Blooms in the spring on several per stem, pendent, 1.2 to 1.6 " [3 to 4 cm] long, dark green streaked purple, 4 to 5 flowered inflorescence arising on both leafy and leafless stems and spread out widely along the stem.

Bahasa Indonesia : 
Ditemukan di Utara dan Timur pulau Kalimantan, di hutan perbukitan dan hutan pegunungan rendah pada ketinggian 400 sampai 1000 meter di atas permukaan laut, sebagai epipit mengantung berukuran menengah pada daerah hangat hingga panas.
Batang : 3 sampai 4 batang yang saling berdekatan.
Daun : Terdapat beberapa daun, berbentuk lonjong bulat telur, menyempit pada bagian ujung maupun pangkal yang dengan seksama mengarah miring atau melandai kemudian meruncing perlahan pada ujungnya, memiliki tekstur, warna, dll seperti daun pada umumnya.
Bunga : Beberapa bunga muncul pada batang, menggantung, tangkai pembungaan 3 hingga 4 cm, berwarna hijau tua bergaris ungu. Bunga berjumlah 2 - 5 kuntum yang muncul dari batang yang masih berdaun maupun yang telah gugur daunnya dan tersebar sepanjang batang.

Sunday, 7 April 2013

Dendrobium chewiorum J.J.Wood & A.L.Lamb 2008

Section : Calcarifera
Endemic Borneo, in lowland and hill forests at elevations of 30 to 400 meters as a large sized, hot growing epiphyte with several,
Stem: 7 ridged, becoming purplish brown carrying 7 leaves
Leave: narrowly elliptic, unequally acutely bilobed apically, basally clasping leaves
Flower: blooms in the fall on a olive to purple, 2 to 2.3 cm long, 1 to 4 flowered inflroescence arising from the upper nodes of leafless stems and carrying musky scented flowers.



Bahasa Indonesia:
Endemik Kalimantan, di hutan dataran rendah dan bukit di ketinggian 30 hingga 400 meter sebagai epifit berukuran besar, pada daerah panas.
Batang : memiliki 7 lekuk punggung, berwarna coklat keunguan dan dengan kurang lebih 7 daun.Daun: Berbentuk bulat panjang dan menyempit,
memiliki sisi yang tidak simetris pada ujung tumbuhnya, dengan bentuk runcing pada ujung dan dasarnya.
Bunga: Tangkai pembungaan sepanjang 2 hingga 2,3 cm, dengan 1 hingga 4 kuntum bunga beraroma wangi yang khas dan berwarna hijau kekuningan hingga ungu yang muncul pada ruas buku terujung dari batang yang telah gugur daun-daunnya.

Friday, 22 March 2013

Thecopus secunda (Ridl.)Seidenf. 1984


Synonyms: Thecostele secunda Ridl. 1895
Found in Peninsular Malaysia and Kalimantan in lowland and lower montane forests at elevations of 20 to 600 meters. (I found it myself at elevation 20-40 meters)
Clustered, ovoid to ellipdsoidal, compressed, pseudobulbs. Carrying a single, apical, thinly to elliptic-obovate leaf.
Flower Stalk: 15 to 40 cm long, branching inflorescence arising from the base of the mature pseudobulbs.
Flower: 8 to 20 flowers, 3 cm broad, green with brown stripe on petals and sepals.



Bahasa Indonesia:
Ditemukan di Semenanjung Malaysia dan Kalimantan di hutan dataran rendah dan pegunungan rendah, pada ketinggian 20 hingga 600 meter dari permukaan laut. (saya sendiri menemukannya pada ketinggian 20 - 40 meter dari permukaan laut).
Umbi semu bergerombol, berbentuk agak pipih bulat telur hingga ellipdsoidal. Terdapat 1 hingga 2 daun, pada titik ujung tumbuh tanaman, tipis hingga elips-bulat telur terbalik.
Tangkai bunga: panjang 15 - 40 cm, perbungaan bercabang yang muncul dari dasar umbi semu dewasa.
Bunga: 6 - 20 kuntum, lingkar bunga 3 cm, berwarna hijau dengan garis coklat pada mahkota dan kelopaknya.

Thursday, 7 March 2013

Dendrobium sp Kalimantan (aff. crocatum)

Dendrobium sp Kalimantan

Section : Calcarifera
Endemic Borneo, in lowland and hill forests at elevations of 200 to 700 meters as a large sized, warm growing epiphyte with stem-like pseudobubls consisting of many nodes and carrying lanceolate, deciduous leaves and blooms on a short, few flowered inflorescence that arises from a leafless cane.

Green
Yellow
Orange
Alba
Bahasa Indonesia:
Endemik Kalimantan, di hutan dataran rendah dan bukit di ketinggian 200 hingga 700 meter sebagai epifit berukuran besar, epipit pada daerah hangat, dengan umbi semu berbentuk batang yang terdiri dari banyak buku/ruas. Memiliki daun berbentuk lanset dan bertipe gugur, umur bunga hanya beberapa hari dan muncul dari batang yang tidak berdaun.

Tuesday, 5 March 2013

Dendrobium doloissumbinii J.J.Wood, 2009


Section : Calcarifera
Synonim : Eucycaulis doloissumbinii (J.J.Wood) M.A. Clem. 2009
Endemic Borneo, in lowland and hill forests at elevations 30 to 700 meters as a small to medium sized, hot growing epiphyte with up to 20, becoming pendent with age,
sulcate, internoded stem carrying several towards the apex, narrowly elliptic, oblique apically, subacute to acute leaves that blooms in the spring with a short to .4" [1 cm] long, 1 to rarely 2 flowered inflorescence
References : Malesian Orchid J. 3: 31 ( 2009)
Bahasa Indonesia:
Endemik Kalimantan, di hutan dataran rendah dan perbukitan pada ketinggian 30 hingga 400 meter diatas permukaan laut, sebagai epifit berukuran kecil hingga sedang dengan batang hingga mencapai 20 ruas, semakin menggantung seturut usianya dan memiliki alur yang menyempit.
Daun: Terdapat beberapa d
aun pada dekat dengan ujung batang, berbentuk lonjong menyempit, memiliki sisi yang tidak simetris pada ujung tumbuhnya, runcing dengan sudut yang lebar/membulat hingga berbentuk runcing apa ujung dan dasarnya.
Bunga mekar tidak lama, berjumlah 1 dan jarang sekali 2. Dengan tangkai pembungaan hanya sepanjang 1cm.

Sunday, 22 April 2012

Vanda frankieana D.Metusala, P.O'Byrne 2012


Section : Dactylolobata Suarez & Cootes 2008
Distribution : Endemic Borneo in montane rainforests  as epiphyte.
Flower : 1 to 5 waxy and fleshy flowers on a short inflorescent. The flowers are 3.8 to 4.4 cm wide and 3.6 to 4.2 cm high and the color is bright yellowish green with red-brown spots and a white lip. 
The species grows slowly and is approximately 50 cm high when it is fully grown.
It took approximately 140 years to describe this new species. Already in 1866 this new Vanda species was found and was to be named Vanda crassiloba. But the species was never described.
Over the years, various researchers have begun to describe the species but this work has not been completed.
The researcher Destario Metusala from the Indonesian Institute of Science and orchid expert Peter O'Byrne from Singapore has now taken hold of this species. As the name Vanda crassiloba was never registered they decided to rename the species to Vanda frankieana as a tribute to Frankie Handoyo to promote his work on conservation and cultivation of orchids.
References : Malesian Orchid Journal 9: 23 ( 2012)


Bahasa Indonesia :
Persebaran : Endemik Kalimatan pada hutan hujan pegunungan sebagai tanaman epipit.
Bunga : 1 sampai 5 bunga, berdaging dan permukaannya berlilin, dengan tangkai bunga Pendek.
Lebar bunga sekitar 3,8 sampai 4,4 cm, sedangkan tinggi bunga sekitar 3,6 sampai 4,2 cm dan berwarna hijau kekuningan cerah dengan bercak merah kecoklatan pada bagian lidah.
Spesies ini tumbuh lambat dan dapat mencapai tinggi sekitar 50 cm bila telah sepenuhnya tumbuh.
Butuh waktu sekitar 140 tahun untuk mendeskripsikan spesies baru ini. Sejak tahun 1866 spesies Vanda baru ini ditemukan dan diberi nama Vanda crassiloba. Tapi spesies ini belum pernah dideskripsikan. Selama bertahun-tahun, berbagai peneliti telah memulai mendeskripsikan spesies ini, tetapi pekerjaan mereka belum selesai.

Peneliti Destario Metusala dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan ahli anggrek Peter O'Byrne dari Singapura telah menyelesaikannya. Sebagaijmana nama Vanda crassiloba tidak pernah terdaftar, mereka memutuskan untuk mengubah nama spesies menjadi Vanda frankieana sebagai penghargaan kepada Frankie Handoyo untuk memperkenalkan  karyanya dalam konservasi dan budidaya anggrek.

Monday, 16 April 2012

Dendrobium dianae D.Metusala, P.O'Byrne & J.J. Wood 2011


Synonim : Eucycaulis dianae (D.Metusala, P.O'Byrne & J.J. Wood) M.A.Clem. 2010
Section : Calcarifera
Endemic Borneo, in lowland and hill forests at elevations of 300 to 900 meters as a medium sized, hot growing epiphyte.
Stem-like pseudobubls consisting of many nodes and carrying lanceolate, deciduous leaves and blooms with 2 to 12 inflorescence flowers, clustered and hung, that arises from a leafless cane.
Have the morphological closeness to the Dendrobium muluense from Sarawak, except the lip of D. dianae has two aligned callus that extends and stretched on the mid lobe surface of the flowers lip.
Flowers size is about 1.6-1.8 cm wide, with color ranging from plain light green to shiny dark yellow with a reddish stripe pattern on the sepals and petals.
Another uniqueness of this orchid is the color variations are very diverse. According to the observations, it is known that there are at least five variations of color in this species, between its color variations can be very much difference. This can be a great potential for development as a genetic resource in orchid breeding and hybridization.
Dianae name derives from the name Dian Rachmawaty, as well as an orchid hobbyist and conservationists in South Kalimantan (Banjarmasin).
References : Malesian Orchid Journal 6: 57 ( 2010)

Bahasa Indonesia:
Persebaran : endemik Kalimantan, di hutan dataran rendah dan perbukitan pada ketinggian 300 hingga 900 meter diatas permukaan laut, sebagai epifit berukuran sedang.
Batang terdiri dari banyak ruas dan mempunyai daun berbentuk lanset dan betipe gugur, 2 sampai 12 bunga muncul menggerombol dan menggantung dari batang yang telah menggugurkan daunnya.
Memiliki kedekatan morfologi dengan anggrek Dendrobium muluense dari Sarawak, bedanya kalau pada bibir D dianae memiliki dua buah kalus sejajar yang memanjang dan membujur dipermukaan cuping tengah bibir bunganya. 
Lebar bunga 1.6-1.8 cm, berwarna mulai dari hijau muda polos hingga kuning tua mengkilat dengan pola strip kemerahan pada sepal dan petalnya. 
Keunikan lainnya yaitu, variasi warna Dendrobium dianae yang sangat beragam. Menurut hasil observasi diketahui bahwa terdapat setidaknya lima variasi warna pada spesies ini, dan antar variasi warna bisa sangat jauh perbedaannya. Ini dapat menjadi potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber genetik dalam kegiatan pemuliaan anggrek dan hibridisasi. Nama dianae diambil dari nama Dian Rachmawaty, seorang hobiis anggrek sekaligus penggiat konservasi anggrek di Kalimantan Selatan (Banjarmasin).



Thursday, 12 April 2012

Dendrobium bicaudatum Reinw. ex Lindl. 1859

Dendrobium bicaudatum green
Synonyms: Ceratobium bicaudatum (Reinw. ex Lindl.) M.A.Clem. & D.L.Jones 2002Callista bicaudata (Reinw. ex Lindl.) Kuntze 1891; Ceratobium minax (Rchb.f.) M.A.Clem. & D.L.Jones 2002; Dendrobium antelope Rchb. f. 1883; Dendrobium burbidgei Rchb. f. 1878; Dendrobium demmenii J.J. Sm. 1920; Dendrobium minax Rchb. f. 1874; Dendrobium rumphianum Teijsm. & Binn. 1862.
Section: Spatulata
Found in : Sulawesi and Maluku.
Out of flower, this form looks very much like Dendrobium antennatum, with canes of similar height, but the leaves are shorter and broader, tending toward an ovate outline. The spike arise near the cane tips, but are fewer flowered in this species, usually carrying only four or five blossoms, though there may be three to five spikes per cane.
The dorsal sepal is lanceolate to lingulate (tongue-shaped) and extends forward over the column, while the similary shaped lateral sepals diverge widely as they project forward. The petals are also held rigidly erect, but the lack of spiral twist of dendrobium antennatum, generally twisting only once near the base. The petals are narrow, expanding little from base to tip, and are sharply pointed.
This flowers are highly variable in color, the sepals and petals being either greenish-pink, yellowish, or definite brown, with one attractive variation colored much like Dendrobium antennatum. Each color phase has been given its own name, though the variants are restricted to individual island groups. 
The labellum is basically greenish-white with pink-to-violet streaks on the lateral lobes, and its keels are violet.
Large flowers measure 2.5-3 cm in natural spread, with a dorsal sepal 2 cm X 0.4 cm, lateral sepals 2 cm X 0.3 cm, petals 3.5-4 cm X 0.2 cm, and a labellum 3 cm X 1.5 cm.

References : A review of the "Antelope" Dendrobiums (Section Ceratobium) -Part2- Subsection Minacea, by  DR. CLAIR RUSSELL OSSIAN.


*Note: I've noticed, this species does not like the wet medium, so it is advisable to use the well draining medium.


Dendrobium bicaudatum yellowish
Dendrobium bicaudatum brown

Bahasa Indonesia :
Ditemukan di Sulawesi dan Maluku.
Diluar hal bunga, bentuknya terlihat sangat mirip dengan Dendrobium antennatum, dengan tinggi batang yang sama, tetapi daunnya lebih pendek dan lebih luas, cenderung bulat telur. Tangkai pembungaan muncul di sekitar ujung batang, tetapi jumlah bunganya lebih sedikit, biasanya hanya terdapat empat atau lima bunga, meskipun mungkin ada 3-5 tangkai pembungaan perbatang.
Sepal dorsal (kelopak punggung) berbentuk lanset hingga lingulate (menyerupai lidah) dan memanjang ke depan diatas tugu bunga, sementara bentuk yang sama pada sepal lateral (kelopak bawah) tetapi begitu memanjang ke depan lalu menyimpang jauh ke bagian sisi bunga. Petal (mahkota banga) juga sangat kaku dan tegak, tetapi lebih sedikit putaran spiral dibandingkan Dendrobium antennatum, umumnya memutar hanya sekali di dekat pangkal. Mahkotanya sempit, sedikit meluas dari pangkal hingga ke ujung, dan ujung yang tajam.
Warna bunga sangat bervariasi, baik mahkota-mahkota maupun kelopak-kelopaknya bisa saja berwarna merah muda kehijauan, kekuningan, atau coklat, dengan satu variasi warna yang menarik seperti pada Dendrobium antennatum. Setiap variasi warna telah mempunyai  namanya sendiri, meskipun varian dibatasi oleh kelompok-kelompok pulau masing-masing.
Bagian lidah pada dasarnya putih kehijauan dengan gurat merah muda hingga ungu pada bagian cuping lateral, dan gurat ungu pada bagian keel.
Bunga besar berukuran 2,5-3 cm di habitat alaminya, dengan kelopak belakang 2 cm X 0,4 cm, kelopak lateral 2 cm X 0,3 cm, mahkota 3,5-4 cm X 0,2 cm, dan bagian lidah 3 cm X 1,5 cm.

*Catatan: Saya memperhatikan bahwa spesies ini tidak begitu suka dengan media tanam yang basah, jadi saya sarankan untuk menggunakan media tanam yang tidak terlalu menyerap air.

Dendrobium bicaudatum red brown

Wednesday, 11 April 2012

SECTION Ceratobium M.A.Clem. & D.L.Jones, 2002

Some experts in recent years changing dan separating SECTION Spatulata of the Genus Dendrobium and put it into some new SECTION / Genus: Ceratobium, Cepobaculum & Durabaculum.
Distribution is in Java, Sulawesi, Papua and PNG

Ceratobium d'albertsii / Dendrobium antennatum var d'albertsii
Ceratobium laxiflorum / Dendrobium laxiflorum
Ceratobium leporinum / Dendrobium leporinum
Ceratobium stratiotes / Dendrobium stratiotes
Ceratobium strebloceras / Dendrobium strebloceras
Ceratobium strepsiceros / Dendrobium strepsiceros

Monday, 9 April 2012

Dendrobium flos-wanua D.Metusala, P.O'Byrne & J.J. Wood 2010



Synonim : Eucycaulis flos-wanua (D.Metusala, P.O'Byrne & J.J. Wood) M.A.Clem. 2010
Section : Calcarifera
Endemic Borneo, in lowland and hill forests at elevations of 300 to 900 meters as a medium sized, hot growing epiphyte with stem-like pseudobubls consisting of many nodes and carrying lanceolate, deciduous leaves.
Blooms with 2 - 8 inflorescence flowers that arises from a leafless cane.
Flower: 2.1-2.2 cm wide, shiny green and yellow, sepal-petals are widely open, with the middle lobe of the lip are quite big, almost rectangular-shaped and shallow divided at the edges. Besides its widely lip, there is also a "U" shaped on the ridge of callus that crossed the lips of flowers. Flos-Wanua name means "Wanua flower", taken from the name of Vincent Wanua, an orchid hobbies in Malang-Indonesia who has helped in the research of this orchid.
References : Malesian Orchid Journal 6: 83 ( 2010)

Bahasa Indonesia:
Endemik Kalimantan, di hutan dataran rendah dan perbukitan pada ketinggian 300 hingga 900 meter diatas permukaan laut, sebagai epifit berukuran sedang.
Batang terdiri dari banyak ruas dan mempunyai daun berbentuk lanset dan betipe gugur.
Bunga berjumlah 2 sampai 8 bunga yang muncul sekaligus dari batang yang telah menggugurkan daunnya. Lebar bunga 2.1-2.2 cm, berwarna hijau kekuningan mengkilat, sepal petalnya membuka lebar, dengan bagian cuping tengah bibir bunga yang cukup lebar, berbentuk hampir segi empat dan terbelah dangkal di bagian ujungnya. Selain bibir bunganya yang lebar, terdapat juga tonjolan kalus berbentuk "U" yang melintang pada bibir bunganya. Nama flos-wanua berarti "bunga wanua", yang diambil dari nama Vincent Wanua, seorang hobiis anggrek di Malang yang telah membantu dalam penelitian anggrek ini.

Tuesday, 15 November 2011

Coelogyne speciosa Lindley 1834

Coelogyne speciosa subs. speciosa
Synonyms : Chelonanthera speciosa Bl. 1825; Coelogyne speciosa subsp. fimbriata (J.J.Sm.) Gravend. 1999; Coelogyne speciosa subsp. incarnata Gravend. 1999; Coelogyne speciosa subsp. speciosa.; Coelogyne speciosa var. fimbriata J.J.Sm. 1907; Pleione speciosa (Blume) Kuntze 1891
Section : Speciosae Lindley
Distribution : Java & Sumatra
Found in rainforests and hill forests at elevation 700 to 2000 m.
Plant : clustered ovoid pseudobulbs, 2 elliptic or lanceolate and plicate leaves,
Flower : 1-3 intermittent large sized flowers, emerged from the middle of the end of a young pseudobulbs. Right in the middle between the prospective leaves
Coelogyne speciosa subs. incarnata
Bahasa Indonesia :
Persebaran : Jawa dan Sumatra di hutan hujan dan hutan perbukitan pada ketinggian 700 hingga 2000 diatas permukaan laut.
Tanaman : umbi semu rapat dan berbentuk seperti bulat telur, memiliki 2 daun berbentuk lanset atau elips dan memiliki alur lipatan-lipatan yang saling sejajar.
Bunga : memiliki 1 hingga 3 bunga berukuran besar secara berselang, muncul dari bagian tengah ujung umbi semu, tepat ditengah-tengah pangkal calon daun.

Wednesday, 9 November 2011

Phalaenopsis maculata Rchb.f 1881



Synonims : Phalaenopsis cruciata Schltr. 1910; Phalaenopsis maculata f. flava Christenson 2001; Phalaenopsis muscicola Ridl. 1893; Polychilos maculata (Rchb. f.) Shim 1982
Subgenus : Polychilos 
Section : Amboinenses
Distribution : Borneo and Sulawesi
Found in lowland to hills forests at an altitude of sealevel to 1000 meters on rocky limestone hills, on the basis of the moist mossy trees, small epiphytes or lithophyte with a very short stem. 2 to 3 leaves and fleshy. A small flower stalks, curved 2 to 4 "[5 to 10 cm] long, with some flowers.

Bahasa Indonesia
Ditemukan di dataran rendah sampai hutan perbukitan pada ketinggian sampai 1000 meter sealevel pada perbukitan berbatu kapur, di dasar pohon berlumut yang lembab, epifit berukuran kecil atau litopit dengan batang yang sangat pendek. Memiliki 2 hingga 3 daun dan berdaging. Sebuah tangkai bunga berukuran kecil, melengkung 2 sampai 4 "[5 sampai 10 cm] panjang, dengan beberapa kuntum bunga.

Wednesday, 2 November 2011

Dendrobium atavus J.J.Sm. 1905

Section Dendrobium
Distribution : Endemic Java
Found at elevations around 700-800 meters as a medium sized epiphyte.
Stem : yellowish, zig-zag, clustered and compressed.
Leaves: many, deciduous, lanceolate to linear, unequally bilobed apically.
Flowers : blooms in the spring on a 2" [5 cm] long, up to 10 flowered inflorescence, pale yellow to orange.

Bahasa Indonesia
Persebaran : Endemik Jawa
Ditemukan pada ketinggian sekitar 700 - 800 meter sebagai anggrek epipit berukuran menengah.
Batang : berwarna kekuningan, zig-zag, bergerombol dan rapat.
Daun : bertipe gugur, lanset dan memanjang.
Bunga : berukuran panjang 2" [5cm] panjang, sampai 10 bunga, berwarna kuning pucat hingga oranye.

Wednesday, 31 August 2011

Phalaenopsis Amabilis [L] Blume 1825 ( Anggrek Bulan )


Section Phalaenopsis

Synonyms: Angraecum album majus Rumph 1750; Cymbidium amabile [L.]Roxb. 1832; Epidendrum amabile L. 1855, Phalaenopsis aphrodite var gloriosa [Rchb.f] Veitch 1891; Phalaenopsis celebica Vlooten 1932 ; Phalaenopsis gloriosa Rchb.f 1888; Phalaenopsis grandiflora Lindley 1848; Phalaenopsis grandiflora var. aurea auct. 1864; Phalaenopsis rimestadiana [Linden] Rolfe 1905; Phalaenopsis rosenstromii F.M. Bailey 1906; Phalaenopsis xelisabethae Hort. 1927; Synadena amabilis [L.]Raf. 1836

Distribution: northern Australia, Java, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, and some island in Indonesia, also in Papua New Guinea & the Philippines.
Found at elevations up to 600 meters in rainforests, attached on tree trunks.
Have 3 to 6 fleshy or coriaceous, ovate-elliptic, obovate, obtuse, shiny green leaves.
Flowers: 7-12 cm broad, pure white color, with white or yellow lip and some red stripes, showy, long-lasting flowers.
The common name of this orchid in Indonesia is "Aggrek Bulan", (Bulan = Moon; Month) is not clear whether it mean as the "Moon" because of his bright like the moon or "Month" refers to long-lasting flowers, reaching more than a month.
Note
It is unfortunate, many articles or comments that say that this orchid grows only in few places. Even they said that for this type of Borneo, is only found in South Kalimantan Province, in the area Pelaihari. In fact this is one of phalenopsis, the most widely spreading. Indeed, there are several variants, but all have the advantages of each. For Phalaenopsis var Borneo photo above, I took a sample from areas in Central Kalimantan Province

Indonesia:
Persebaran: Australia bagian utara, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan beberapa pulau di Indonesia, juga di Papua New Guinea & Filipina.
Ditemukan pada ketinggian hingga mencapai 600 meter diatas permukaan laut, pada belantara hutan hujan, hidup menempel pada batang pohon.
Memiliki 3 sampai 6 daun, berdaging atau seperti kulit, berbentuk bulat telur-elips, bulat telur terbalik, tumpul, berwarna hijau mengkilap.
Bunga: lingkar bunga 7-12 cm, berwarna putih cemerlang, dengan lidah berwarna putih atau kuning dan beberapa garis merah, semarak dan tahan lama.
Nama umum anggrek ini di Indonesia adalah "Aggrek Bulan", tidak jelas apakah itu berarti sebagai "Bulan" karena bunganya yang cerah dan indah seperti bulan atau "Bulan" mengacu pada bunga yang tahan lama, mencapai lebih dari sebulan.
Catatan:
Sangat disayangkan sekali, banyak artikel atau komentar yang mengatakan bahwa anggrek ini hanya tumbuh di beberapa tempat saja. Bahkan mereka mengatakan untuk jenis Kalimantan hanya ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan, di daerah Pelaihari. Faktanya ini adalah salah satu jenis phalaenopsis yang memiliki daerah persebaran yang sangat luas. Memang, terdapat banyak varian tetapi semua memiliki kelebihannya masing-masing. Untuk foto tipe Anggrek Bulan Kalimantan di atas, saya mengambil contoh dari Provinsi Kalimantan Tengah.


Monday, 29 August 2011

Dendrobium cinereum J.J. Sm. 1920


Section : Calcarifera
Distribution : Endemic Borneo

Epiphyte on tree trunk on lower montane forests at elevations around 350 to 1500 meters.
Pearl gray at the top of the leaf, while on the back of the leaves is dark purple. Fragrant flowers emerge from stems that have fallen leaf, there are several flowers and bloom on short.






Bahasa Indonesia :
Epipit pada batang pohon di hutan pegunungan rendah pada ketinggian 350 hingga 1500 meter dari permukaan laut.
Bagian atas daun berwarna mutiara abu-abu, sementara di bagian belakang daun berwarna ungu, bunga muncul dari batang yang telah gugur daunnya, terdapat beberapa bunga dalam satu tangkai dan agak harum. Mekarnya bunga tidak lama, hanya beberapa hari saja.

Monday, 27 June 2011

Dendrobium secundum [Bl.] Lindl. 1828

Section: Pedilonium
Synonyms: Callista secunda [Bl.] O. Ktze 1891; Dendrobium bursigerum Lindley 1859; Dendrobium heterostigma Rchb.f 1859; Pedilonum bursigerum (Lindl.) Rauschert 1983; *Pedilonum secundum Bl. 1825
Found in almost all over Southeast Asia, attached to the tree trunks.
Has a thin leaves. The flowers appear at the end segment of the pseudobulbs, and its pseudobulbs can reach more than 1.5 m long.
Up to 50 little, waxy, glossy and fragrant flowers on one single stalk, but its not open widely.
In my place also called "a toothbrush orchid", refers to the flower form.

Bahasa Indonesia:
Ditemukan hampir di seluruh Asia Tenggara, hidup menempel pada batang pohon.
Mempunyai daun-daun yang tipis. Bunganya muncul pada ruas-ruas ujung tanaman, panjang batang semunya dapat mencapai panjang lebih dari 1,5 meter.
Pada satu tangkai bunga dapat terdiri dari 50 bunga-bunga kecil yang mengkilap dan sedikit berbau harum, tetapi semuanya tampak tidak sempurna mekar.
Di tempatku juga disebut sebagai "Anggrek Sikat Gigi", mengacu pada bentuk bunganya.